Pengertian Literasi - Pelajar Indonesia

Pengertian Literasi

Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan  menerapkan  ilmu  yang didapatkannya  di  bangku  sekolah. Literasi  juga  terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi  pekerti mulia. Literasi pada awalnya dimaknai  'keberaksaraan'  dan  selanjutnya  dimaknai 'melek' atau 'keterpahaman'. Pada langkah awal, “melek baca dan tulis" ditekankan lantaran kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam aneka macam hal.

Terkait pengeritian Literasi, National Institut for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi yaitu kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan dilema pada tingkat keahlian yang dibutuhkan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Education Development Center (EDC) juga turut mengeluarkan pengertian dari literasi, yaitu kemampuan individu untuk memakai potensi serta skill yang dimilikinya, jadi bukan hanya kemampuan baca tulis saja. Lebih lanjut lagi, UNESCO juga menjelaskan bahwa literasi yaitu seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Menurut UNESCO, pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman. Kemudian, di dalam kamus online Merriam – Webster, dijelaskan bahwa literasi yaitu kemampuan atau kualitas melek huruf dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan juga mengenali serta memahami ide-ide secara visual.

Pemahaman literasi pada akibatnya tidak hanya merambah pada dilema baca tulis saja. Menurut Word Economic Forum (2016), penerima didik memerlukan 16 keterampilan biar bisa bertahan di masa XXI,  yakni literasi dasar (bagaimana penerima didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan  sehari-hari),  kompetensi  (bagaimana peserta  didik menyikapi tantangan  yang kompleks),  dan  karakter  (bagaimana peserta  didik menyikapi  perubahan  lingkungan  mereka).

a) Literasi Dasar
Ada 6 literasi dasar penting yang diidentifikasi dan perlu dikuasai anak-anak, yaitu:
1. Literacy (keterampilan berbahasa)
2. Numeracy
3. Scientific literacy
4. ICT literacy
5. Financial literacy
6. Cultural and civic literacy

b) Kompetensi
Ada 4 keterampilan yang dinilai krusial untuk membantu belum dewasa menuntaskan dilema yang kompleks, yaitu:
7. Critical thinking/problem-solving
8. Kreativitas
9. Komunikasi
10. Kolaborasi

c) Kualitas karakter
Ada kualitas karakter dan penyikapan yang sempurna terhadap perubahan lingkungan dibangun melalui pengembangan keterampilan-keterampilan berikut ini:
11. Keingintahuan
12. Inisiatif
13. Persistence/grit
14. Adaptability
15. Leadership
16. Social and cultural awareness


Selain  itu,  ada  juga  tiga  literasi  lainnya  yang  perlu  dikuasai oleh  penerima didik,  yakni literasi kesehatan, keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan kriminal (bagi siswa SD disebut ―sekolah aman‖)  (Wiedarti,  Mei  2016). Literasi gesture  pun  perlu  dipelajari  untuk  mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para difabel. Semua ini merambah pada pemahaman multiliterasi. Dalam lingkup karakter, penguatan pendidikan  karakter  (PPK)  di  Indonesia mengacu  pada  lima  nilai  utama,  yakni  (1)  religius,  (2) nasionalis, (3) mandiri,(4) gotong royong, (5) integritas (Depdikbud, 2016).

Menurut Cope  dan  Kalantzis  (2000),  pedagogi multiliterasi yang dikembangkan  oleh  New London  Group  merupakan  pandangan  yang melihat  semakin  berkembangnya  dimensi  literasi yang  multibahasa  dan multimodal.    Dengan  demikian,  sekolah  dan  masyarakat  perlu mengembangkan  praktik  dan keterampilan  memakai beragam  cara untuk  menyatakan  dan memahami  ide-ide  dan  informasi  dengan menggunakan  bentuk-bentuk  teks  konvensional maupun bentuk-bentuk teks inovatif, simbol, dan multimedia (Abidin, 2015). Beragam teks yang dipakai dalam  satu  konteks  ini  disebut  teks  multimodal  (multimodal  text).  Adapun pembelajaran  yang  bersifat  multiliterasi--menggunakan  strategi  literasi dalam  pembelajaran dengan memadukan keterampilan masa ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi)--diharapkan sanggup menjadi bekal kecakapan hidup  sepanjang hayat.

Hal ini sesuai dengan apa yang tersaji dalam peta jalan gerakan literasi nasional (GLN). Dalam buku  tersebut,    makna  dan  cakupan  literasi meliputi: :‖(a)  literasi  sebagai  rangkaian  kecakapan membaca,  menulis, berbicara,  kecakapan  berhitung,  dan  kecakapan  dalam  mengakses  dan memakai informasi; (b) literasi sebagai praktik sosial  yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks; (c) literasi sebagai proses pembelajaran dengan acara membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan , dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari, (d)  literasi  sebagai  teks  yang  bervariasi  menurut  subjek,  genre,  dan tingkat kompleksitas bahasa.

Berdasarkan uraian tersebut, istilah literasi merupakan sesuatu yang terus berkembang atau terus berproses,  yang  pada  intinya  adalah  pemahaman terhadap  teks  dan  konteksnya  sebab  insan berurusan  dengan  teks sejak  dilahirkan,  masa  kehidupan,  hingga  kematian,  Keterpahaman terhadap  beragam  teks  akan  membantu  keterpahaman  kehidupan  dan berbagai  aspeknya  lantaran teks itu representasi dari kehidupan individu dan masyarakat dalam budaya masing-masing.





= Baca Juga =